REDAKSI KATAKAMI

Ikon

Jurnalisme Yang Layak Dipercaya

Sungguh Tragis Jika Patut Dapat Diduga Karier Antasari Azhar Berujung Pada Kasus Pembunuhan Ala Mafia Yang Sadis

 
TULISAN UTAMA DI WWW.KATAKAMI.COM & DIMUAT JUGA DI WWW.THEBLOGKATAKAMI.WORDPRESS.COM

 

Jakarta 2 MEI 2009 (KATAKAMI)  Tahta, Harta & Wanita. Inilah sebuah nasihat bijak dari orangtua bagi setiap orang yang sedang menduduki jabatan atau posisi penting dalam tugasnya. Artinya, waspadailah ketiga unsur ini sebab dapat membuat silau mata dan bukan tak mungkin akan dapat menjatuhkan siapapun.

Dan memang, hidup itu ibarat roda yang berputar. Kadang diatas, kadang dibawah.Selain ijab kabul politik M. Jusuf Kalla dan Wiranto sebagai pasangan Capres – Cawapres untuk Pemilu Pilpres 2009, salah satu topik berita yang sangat “PANAS” di semua media massa (bahkan dimuat juga di berbagai media massa internasional adalah berita seputar kasus pembunuhan Direktur Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Nasarudin.

Patut dapat diduga, Antasari Azahar adalah dalang pembunuhan alias aktor intelektual yang memerintahkan agar Nasarudin dibunuh. Dan patut dapat diduga, pembunuhan sadis ini disebabkan cinta segitiga terkait kisah asmara dengan seorang caddy lapangan golf.

Menurut pemberitaan di OKEZONE (Sabtu 2 Mei 2009 ini), Pihak Antasari Azhar membantah bahwa ada cinta segitiga antara Antasari Azhar dengan perempuan bernama RANI JULIANI ( Klik URL  http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/05/02/1/215984/keluarga-tak-percaya-antasari-terlibat-cinta-segitiga ).

 

Kemudian untuk lebih melengkapi informasi seputar perempuan bernama Rani Jualiani ini, bisa juga dibaca tulisan yang dimuat di Situs POLDA METRO JAYA berjudul PENEMBAKAN DIREKTUR BUMN Isteri Ke-3 NASRUDIN MENGHILANG (Klik URL  http://www.reskrimum.metro.polri.go.id/case.php?id=48 ).

Tapi biarlah proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Saat ini POLISI sedang menangani kasus ini. Dan sudah tak bisa lagi bagi MABES POLRI dan jajarannya untuk setengah-setengah dalam menangani kasus pembunuhan ini.

Dalam rangka menghormati proses hukum itulah, kami tak ingin masuk terlalu jauh dalam kasus tersebut. Tetapi falsafah tentang TAHTA, HARTA & WANITA tadi menjadi terngiang-ngiang di telinga kami.

Dan falsafah yang sangat dalam artinya ini, bisa kita hubungan juga dengan kalimat bijak lainnya yaitu “Pengalaman Adalah Guru Yang Baik”. Hendaklah setiap Pejabat, sungguh-sungguh menyadari bahwa jabatan itu adalah amanah dari TUHAN kepada manusia. Setiap saat, kapanpun itu, TUHAN dapat mengambil kembali jabatan tersebut.

Bagi aparat negara, terutama dari KORPS TNI, POLRI & KEJAKSAAN hendaklah masing-masing anggotanya memiliki kecintaan yang sesungguhnya kepada INSTITUSI.

Bayangkan, jika sudah belasan atau puluhan tahun menjadi anggota dari INSTITUSI tertentu.

Bukankah ada rasa memiliki terhadap INSTITUSI. Loyalitas dan ketulusan yang sangat tinggi untuk senantiasa menjaga nama baik INSTITUSI. Bukan malah mengobrak-abrik, mengotori, memecah-belah, menjatuhkan atau menghancurkan.

ANTASARI AZHAR seakan menjadi fenomena baru saat menjabat sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi.

Patut dapat diduga, ia menjadi seperti kacang yang lupa pada kulitnya.

Dalam menangani kasus suap Artalyta Suryani dan (mantan Jaksa) Urip Tri Gunawan, patut dapat diduga ada banyak hal yang dikaburkan dan dibelokkan faktanya oleh KPK. Tetapi euforia yang terjadi ketika itu sulit dibendung akibat derap langkah KPK yang menggebu-gebu seputar kasus Urip sehingga semua pihak ramai-ramai ikut menghujat Kejaksaan Agung.

Hukum adalah hukum.

Menegakkan hukum bukan dengan cara melanggar hukum !

 

 

Satu contoh kecil saja. Ketika kasus Al Amin Nasution mencuat ke permukaan. Semua pihak tersentak, khususnya Pihak Keluarga Al Amin Nasution karena di persidangan Pengadilan Negeri Tipikor dibeberkan rekaman penyadapan yang membahas soal “perempuan” tertentu yang patut dapat diduga digunakan untuk menyemarakkan suasana. Alhasil, isteri dari Al Amin Nasuiton yaitu Pedangdut tersohor Kristina, buru-buru mengajukan permohonan cerai di Pengadilan Agama. Ia malu karena suaminya ketahuan main perempuan.

Kami sempat menuliskan artikel khusus seputar itu bahwa tak sepantasnya KPK memasuki wilayah lain yang sifatnya sangat pribadi. Penanganan korupsi harus tetap konsentrasi pada dalil-dalil hukum seputar penanganan korupsi. Tak usah dan tak perlu memasuki wilayah lain yang jelas-jelas tidak berhubungan secara langsung dengan penegakan hukum di bidang pemberantasan korupsi.

KPK tak perlu menjadi GURU MORAL untuk semua hal, termasuk hendak menggurui semua pihak dengan cara membeberkan dan mempermalukan pihak lain seputar SEKS.

 

Contoh lain, kepada KATAKAMI dalam sebuah kesempatan di tahun 2008 lalu misalnya, Urip Tri Gunawan pernah mengeluhkan bahwa ia merasa direndahkan dengan cara-cara penyidik KPK memeriksa dirinya di awal-awal penangkapan.

Pasalnya, pertanyaan yang diajukan tidak berhubungan dengan kasus yang dihadapi Urip.

Urip terus dicecar pertanyaan, apakah ia melakukan perbuatan yang “jauh sekali” saat berada di kediaman Artalyta Suryani (di hari penangkapan pada bulan Maret 2008). Dan pertanyaan itu saja yang terus-menerus diulang dengan nada yang merendahkan dan penuh ejekan.

Dan lihatlah, tuntutan yang diajukan jaksa penuntut KPK pada kasus Urip Tri Gunawan yaitu 15 tahun penjara.

Darimana ceritanya ada tuntutan yang setinggi itu dalam kasus suap, dimana penyuap aktif yaitu Artalyta Suryani hanya mendapatkan tuntutan 5 tahun penjara. Sedangkan Urip sebagai penyuap pasif justru dituntut 15 tahun penjara ? Kalau disebutkan bahwa tingginya tuntutan pada Urip karena perbuatannya menodai kode etik sebagai aparat penegak hukum.

Darimana ceritanya ada tuntutan hukum dalam penanganan kasus korupsi bisa “nyangsang” alias mengkol alias belok ke pertimbangan kode etik. Penanganan korupsi ya korupsi. Sedangkan kode etik, lain lagi ceritanya. Antasari Azhar adalah Ketua KPK, bukan Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (JAMWAS).

Lalu merujuk pada pencopotan Jaksa Agung Muda Perdata & TUN Untung Udji Santoso.

Patut dapat diduga, Udji (panggilan Untung Udji Santoso, red) memang sengaja dijadikan korban oleh Antasari karena semasa Udji menjabat sebagai Sekretaris Jamwas, dikeluarkan rekomendasi yang mengejutkan yaitu Antasari TIDAK KAPABEL alias tidak pantas untuk diajukan oleh Kejaksaan Agung untuk menjadi anggota KPK.

Masih seputar kasus Artalyta Suryani – Urip Tri Gunawan, persidangan soal kasus suap ini ibarat pameran rekaman penyadapan dan patut dapat diduga bagian mana saja yang diputar hanya berdasarkan kepentingan Antasari Azahar sebagai Ketua KPK yang sarat dengan dendam yang tak jelas ujung pangkalnya.

OC Kaligis, yang sempat menjadi pengacara Artalyta Suryani mengatakan kepada KATAKAMI bahwa pada hari penangkapan Ayin (panggilan Artalyta Suryani, red), sebenarnya Ayin juga berbicara dengan Antasari Azhar dan Ferry Wibisono (KPK). Tetapi fakta ini seolah dikuburan dan diendapkan.

Patut dapat diduga, Antasari seolah mendapat mainan baru untuk memutar-balikkan fakta-fakta yang ujung-ujungnya memberatkan Urip.

Jika diingat lagi semua proses itu maka yang bisa dikatakan disini adalah patut dapat diduga Antasari sekarang terkena tulah alias kena batunya.

Patut dapat diduga, ia menjadi kacang yang sangat amat lupa diri sebab sepanjang dulu menjadi jaksa, ada banyak sekali kasus korupsi yang dituduhkan kepada Antasari.

Patut dapat diduga, ia tak sudi lagi bergaul dan menjalin tali silaturahim dengan Keluarga Besar Kejaksaan Agung.

Patut dapat diduga, Antasari hanya sibuk memata-matai dan mencari kesalahan Kejaksaan untuk dihajar di media massa.

Semua di Kejaksaan Agung hanya diam termangu menyaksikan sepak terjang Antasari karena mereka tahu “luas dalam” dari mantan Direktur Penuntutan Pada Jampidum tersebut.

Sumber KATAKAMI di Kejaksaan Agung mengatakan kalau saja Kejaksaan Agung ingin balas dendam, maka akan sangat mudah karena patut dapat diduga ada banyak sekali aset-aset kekayaan Antasari yang tidak dicantumkan dalam Laporan Kekayaan Pejabat Negara.

 

Patut dapat diduga, Antasari jadi sibuk sendiri untuk menjatuhkan INSTITUSI KEJAKSAAN & MABES POLRI.

Patut dapat diduga, untuk menjatuhkan kedua INSTITUSI ini maka Antasari memakai “mulut” orang lain untuk menghajar habis-habisan dengan modus operandi melemparkan isu atau hujatan keji di media massa.

Kini, roda kehidupan itu berputar dan patut dapat diduga jari telunjuk semua orang yang tahu bagaimana sebenarnya “aslinya”  Antasari ramai-ramai diarahkan ke muka Antasari Azhar.

Inilah hidup dan jadikanlah sandiwara satu babak tentang pentingnya menjaga moralitas dalam menjalani jabatan yang setinggi apapun di muka bumi ini. Tak ada abadi di dunia ini, percayalah ! Semua ada masanya. Semua ada waktunya. Semua ada masanya.

 

Sekarang tinggal bagaimana keseriusan Saudara Jenderal Bambang Hendarso Danuri selaku KAPOLRI.

Seriuskah anda PAK KAPOLRI yang terhormat, dalam menangani kasus pembunuhan yang patut dapat diduga melibatkan Antasari Azhar sebagai DALANG UTAMA pembunuhan yang sadis ini ?

Seriuskah anda PAK KAPOLRI yang terhormat, dalam mengungkap semua detail kasus ini sampai hal yang sekecil-kecilnya yaitu jika patut dapat diduga ada Petinggi POLRI yang terlibat sebagai fasilitator pembunuhan tersebut ?

Jangan ada rekayasa dalam proses penegakan hukum apapun juga di negara ini.

Misalnya, mau seribu kunjungan atau penggerebekan dilakukan oleh Saudara Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan jajarannya di pabrik narkoba, patut dapat diduga semua itu hanya jadi DAGELAN YANG TIDAK LUCU sebab fakta membuktikan bandar dan mafia narkoba LIEM PIEK KIONG alias MONAS yang diloloskan Petinggi POLRI saja tidak tangkap-tangkap lagi sampai saat ini (setelah 3 kali berturut-turut diloloskan dari jerat hukum).

Sehingga, patut dapat diduga semua inisiatif dari Jajaran Direktorat Narkoba POLDA METRO JAYA atau Direktorat NARKOBA BARESKRIM MABES POLRI untuk mengerebek pabrik narkoba manapun untuk diekspose di media massa, akan sangat percuma dan GAGAL TOTAL jika niatannya hanya untuk mengalihkan permasalahan.

 

BOSS, tangkap saja dulu bandar narkoba MONAS itu !

Baru setelah ditangkap, ANDA semua bisa mengekspose seribu satu macam penggerebekan.

Rakyat Indonesia ini bukan manusia bodohlah. Jangan terlalu naif dalam menilai tingkat kecerdasan rakyat Indonesia.

Dan kembali kepada kasus pembunuhan yang patut dapat diduga melibatkan Ketua KPK (NON AKTIF) Antasari Azhar, ini sudah menjadi konsumsi pemberitaan yang sangat luas dan tak mungkin lagi dihentikan.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan jajarannya, jangan pernah menutupi sepotongpun juga rangkaian fakta demi fakta yang terangkum dalam kasus pembunuhan ini.

Buka semua dan beberkan secara jelas, siapa saja yang patut dapat diduga terlibat didalamnya (termasuk jika patut dapat diduga ada PERWIRA TINGGI POLRI yang terlibat sebagai fasilitator pembunuhan).

Jangan hancurkan nama baik dan reputasi yang harum dari INSTITUSI POLRI.

Kalau misalnya ada ada orang-orang tertentu didalam internal POLRI yang sulit mencintai dan menghormati nama baik dan reputasi INSTITUSI POLRI, maka biarkan saja orang-orang seperti itu tergilas oleh zaman.

Singkirkan. Ibarat sebuah pohon, ranting-ranting yang sudah busuk harus cepat dibuang agar jangan merusak pohon itu secara keseluruhan.

Rakyat INDONESIA menginginkan POLRI menjadi POLRI yang sangat kredibel, profesional dan lebih membanggakan dari hari-hari sebelumnya. Bukan dan jangan justru malah dibuat menjadi POLRI yang mengecewakan karena patut dapat diduga dijadikan ALAT KEKUASAAN atau dibuat yang patut dapat diduga menjadi tameng bagi penyedia fasilitas pembunuhan ala mafia-mafia berdarah dingin.

Rakyat INDONESIA menunggu hasil konkrit dari kasus pembunuhan ini.

Ada banyak Pejabat Utama POLRI yang masih sangat idialis, nasionalis dan sungguh dapat dipercaya oleh RAKYAT INDONESIA.

Para Jenderal yang menjadi Pejabat Utama MABES POLRI, siap, mohon izin menyampaikan harapan yang besar dari rakyat Indonesia, kami perlu bukti, bukan janji, bahwa POLRI memang melakukan reformasi birokrasi, bahwa POLRI memang aparat penegak hukum yang akan melakukan proses penegakan hukum yang benar-benar dapat dipercaya.

Para Jenderal yang menjadi Pejabat Utama MABES POLRI, siap, mohon izin juga menyampaikan bahwa rakyat Indonesia menginginkan agar siapa saja yang patut dapat diduga TERLIBAT dalam pembunuhan ala MAFIA SADIS ini ditangkap, tanpa memandang pangkat dan jabatan.

Mau Ketua KPK, atau Perwira Tinggi berbintang 3 sekalipun, jika patut dapat diduga terlibat maka hanya ada satu harapan soal pengungkapan dan penanganan kasus pembunuhan ala MAFIA SADIS ini :

LANJUTKAN !

 

(MS)

 

 

Filed under: Uncategorized, ,

KATAKAMI.COM

TULISAN UTAMA DI KATAKAMI

%d blogger menyukai ini: