REDAKSI KATAKAMI

Ikon

Jurnalisme Yang Layak Dipercaya

Kabinet Obama Lalui 100 Hari Pertama Dengan Rapor Biru “Execelent”, Mantap Barry !

 
President Barack Obama (Photo : Pete Souza, White House)
President Barack Obama (Photo : Pete Souza, White House)

Jakarta 28 APRIL 2009 (KATAKAMI)  Pada bagian kedua tulisan ini, muaranya tetap menyoroti 100 hari pertama Pemerintahan Presiden Barack Obama.

Apapun yang dilakuakn oleh Obama, pasti akan ada pro dan kontra. Terutama dari kalangan lawan politiknya sendiri. Ataupun dari negara-negara tertentu.

Jangankan diluar negeri, di Indonesia inipun ada yang patut dapat diduga liar kedengkiannya. Dengki biasanya adalah wujud dari rasa rendah diri yang berlebihan sehingga ketidak-mampuan untuk melakukan atau mengimbangi perbuatan orang lain yang lebih maju itu membuat sangat “gelap hatinya”.

Bahkan ketika beberapa hari lalu tulisan kami bagian pertama mengenai masa 100 hari Pemerintahan Obama dimuat, ada pihak tertentu yang kumat berusaha merusak tulisan itu yaitu yang patut dapat diduga adalah oknum yang itu-itu juga dari kalangan DINAS INTELIJEN dan kubu dari oknum berinisial GM.

 

Dengan kode rahasia, L 4 alias Lu Lagi Lu Lagi  (Cape Deh).

Kasihan, barangkali lupa kalau selama ini patut dapat diduga oknum berinisial GM itu meraup keuntungan yang luar biasa dengan hanya menjadikan isu terorisme sebagai komoditi dagangan.

Tetapi namanya pengecut ya hanya akan berani di balik kegelapan.

Kalau terang-terangan, tentu saja malu luar biasa dan bisa-bisa menjadi tambah rendah diri di hadapan perangkat Pemerintahan AS seperti CIA dan FBI.

Beda-beda tipis kelakuan manusia-manusia pengecut ini dengan pemimpin teroris kelas dunia, Osama Bin Laden.

Pada tulisan bagian pertama kami uraikan bahwa Osama sangat tidak kesatria dan menerapkan gaya “Lempar Baru Sembunyi Tangan”. Membunuh ribuan orang mau tetapi dihukum tidak mau.

Seperti itu jugalah, oknum dari Badan Intelijen Negara (BIN) dan kelompok dari oknum Perwira Tinggi POLRI berinisial BHD dan GM sebab patut dapat diduga mereka semua akan sangat cepat merusak aset media kami kalau ada dugaan pelanggaran hukum mereka yang dibuka kepada masyarakat lewat tulisan-tulisan kami.

Sehingga, setelah melalui masa 100 hari pertama Pemerintahannya ini, Presiden Obama mendapatkan lebih banyak informasi mengenai bagaimana sesungguhnya “potret” Indonesia ini.

Berbicara mengenai gaya kepemimpinan Obama sejak resmi menjabat tgl 20 Januari 2009 sebagai Presiden AS ke-44,  yang membuat Obama menjadi berbeda adalah ia mau secara sportif menawarkan dan mengulurkan tangan untuk berdialog dengan sejumlah negara yang selama ini sangat keras berseteru dengan AS.

Iran, Venezuela dan Kuba misalnya.

Mari sejenak mundur ke belakang saat Obama menghadiri KTT Amerika baru-baru ini. Bagaimana bisa seorang Presiden dari negara adidaya yang sangat kuat pengaruhnya bisa dikritik oleh rata-rata pemimpin dunia yang hadir disana ?

Rata-rata ingin agar AS mencabut embargo atas Kuba.

Dan Obama menghadapi semua itu dengan wibawa yang sulit ditandingi. Pasti, telinga Obama kurang nyaman mendengar negaranya dikritik habis-habisan. Tetapi ia tenang dan tetap bersikap terhormat.

 Walau ia mendengar semua kritikan dengan sikap yang begitu tenang, hujan kritik di KTT Ke-34 Negara-Negara Amerika di Trinidad-Tobago (Port Of Spain) pertengahan April lalu tak berhasil membuat Obama menjadi tersudutkan dan bisa dengan mudah didikte.

Gaya politik luar negeri Obama harus diakui cerdik. Tenang tapi “menghanyutkan”.

Obama pasti sudah secara cepat menganalisa bagaimana situasi dan kondisi pada KTT tersebut. Bayangkan saja, ia harus menghadiri sebuah KTT yang dihadiri oleh mayoritas Pemimpin Dunia yang selama ini berseberangan dan berseteru hebat dengan AS.

Presiden Obama Bersalaman Dengan Presiden Chavez
Presiden Obama Bersalaman Dengan Presiden Chavez

Presiden Hugo Chavez misalnya, ia yang menghampiri Obama untuk bersalaman.

Semua mata memandang, terutama  media massa yang datang dari berbagai negara. Obama justru menyapa terlebih dahulu dengan kalimat sapaan berbahasa Spanyol, “Como Estas ?” yang artinya Apa Kabar ?

Lalu Presiden Chavez mengatakan, ”Saya berjabatan-tangan dengan Bush delapan tahun lalu. Saya ingin jadi sahabat Anda,” kata Chavez kepada Obama.

”Terima kasih,” jawab Obama.

Setelah itu, Chavez menyerahkan buku berjudul Menguak Tabir-tabir Amerika Latin: Lima Abad Perampasan Sebuah Benua dalam bahasa Latin karya Eduardo Galeano berisikan esai soal campur tangan AS dan Eropa di kawasan.

Ketika itu, saat Obama berpidato ia menegaskan bahwa AS akan memulai hubungan baru.

”Saya memiliki banyak hal untuk dipelajari dan ingin mendengar,” kata Obama dalam pidato pembukaan. Dia menjanjikan sebuah agenda baru baru Amerika, sekaligus sebuah gaya baru dalam berhubungan.

”Kita pernah lama tercerai dan pernah lama saling mendiktekan kehendak. Namun, saya berjanji kepada Anda, saya menginginkan kemitraan yang setara. Tidak ada mitra senior dan yunior dalam hubungan kita,” kata Obama.

Obama juga menyapa Presiden Nikaragua, yang selama bertahun-tahun pernah dicoba dijungkalkan AS di bawah Presiden Ronald Reagan. Ortega terjungkal lewat pemilu tahun 1990 sekaligus mengakhiri perang sipil. Namun, pada 2006 Ortega kembali berkuasa.

Ortega kemudian memberi pidato selama 50 menit dengan mengecam kapitalisme dan imperialisme AS, termasuk menyinggung invasi Teluk Babi, Kuba, tahun 1961. Namun, Ortega mengatakan Presiden baru AS tidak bersalah atas semua itu.

”Saya senang Presiden Ortega tidak mempersalahkan saya atas kejadian di kala saya masih berusia tiga bulan,” kata Obama yang membuat hadirin tertawa dan bertepuk tangan. Namun, tepukan tangan terpanjang adalah ketika Obama menyerukan hubungan baru Washington-Havana. Dia juga menginginkan Kuba kembali menjadi anggota OAS, yang terputus sejak 1962

Dari berbagai pemberitaan di media massa akan sangat mudah diketahui apa saja kegiatan, pernyataan, kebijakan dan segala hasil pekerjaan Obama sejak dilantik tanggal 20 Januari 2009.

Itulah sebabnya,  kami meyakini bukan pujian yang dikejar oleh Obama !

Obama, bekerja dari mulai detik pertama ia duduk di meja kerja sebagai Presiden AS. Dan kita semua tahu bahwa keputusan pertama yang diambilnya adalah menutup penjara Guantanamo di Teluk Kuba selambat-lambatnya Januari 2010.

Bukan karena Penjara Guanatanmo ciptaan Presiden Bush itu dikritik habis-habisan maka Obama langsung memutuskan untuk menutup penjara itu sampai paling lambat satu tahun ke depan.

THE RULE OF LAW.

Itu yang ingin ditegakkan Oleh Kabinet Obama. Dengan menutup Penjara Guantanamo, Obama bukan berarti melupakan tragedi yang sangat memilukan hati bangsa dan rakyat AS yaitu Tragedi 11 September 2001.

Tragedi 11 September itu tak akan pernah dilupakan oleh AS, bahkan oleh dunia internasional. Sehingga disini lewat keputusan untuk menutup Penjara Guantanamo, terlihat betul bahwa seorang Barack Hussein Obama ingin agar “THE RULE OF LAW” atau Penegakan Hukum dapat ditegakkan secara murni.

Kami tidak ingin secara tajam menyorot kelemahan Dinas Rahasia AS (CIA), atau juga Biro Investigasi Federal (FBI) terkait penanganan terorisme pasca Tragedi Serangan 11 September 2001.

CIA terutama, Dinas Rahasia andalan AS ini adalah sebuah INSTITUSI yang keberadaannya mutlak dibutuhkan oleh rakyat AS untuk melindungi mereka dari segala ancaman di sektor keamanan nasional AS (National Security).

CIA tetap diharapkan peran dan kerjasamanya dengan dunia internasional dalam penanganan terorisme. CIA perlu membenahi beberapa hal dan kami sependapat kalau CIA yang dipersalahkan dan dihujat ramai-ramai terkait kondisi riil di Penjara Guantanamo.

Mereka hanya bawahan. Dan di negara manapun juga, bawahan tetaplah bawahan. Mereka sebatas menjalankan STATE POLICY. Kebijakan Negara.

President George W. Bush
President George W. Bush

Disini sebenarnya, yang patut dapat diduga sangat besar bobot kesalahannya adalah Presiden George W. Bush.

Kesalahan yang kami maksud adalah Bush tidak sepenuhnya menyerahkan kepada PROSES HUKUM terkait aksi terorisme Tragedi Serangan 11 September.

Sekali lagi, tragedi serangan 11 September itu adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat keterlaluan, biadab dan diluar batas batas-batas kewajaran. Sialnya lagi, otak pelaku dari tragedi serangan 11 September itu tak punya nyali dan sangat tidak kesatria sifatnya.

Sebab, tidak mau dan tidak berani menghadapi kenyataan yang sebenarnya bahwa setiap pelanggaran terhadap kemanusiaan, hukum dan HAM harus mendapat konsekuensi yang setimpal.

Presiden Bush sangat sulit untuk menahan emosi yang begitu dalam kepada para pelaku tragedi serangan 11 September itu. Sebenarnya, bisa dipahami jika tragedi serangan 11 September itu menjadi sebuah trauma yang sangat memukul perasaan, harga diri dan kehormatan AS.

Para pelaku serangan 11 September itu benar-benar manusia terkutuk yang sangat biadab.

Agresi militer AS ke sejumlah negara, yang lagi-lagi merupakan STATE POLICY atau KEBIJAKAN NEGARA dikeluarkan oleh Presiden Bush. Lalu dibukanya Penjara Guantanamo juga buntut yang berkepanjangan dari dendam yang sangat dalam pada diri Presiden Bush.

Bush tentu sangat terpukul dan bisa jadi akan terus semakin terpukul, setiap kali ia mengenang tragedi serangan 11 September. Dan yang ia kenang, pasti tentang banyaknya rakyat AS yang menjadi korban tewas. Pemimpin mana yang tidak akan terguncang hatinya menyaksikan rakyat yang dipimpinnya mati sia-sia karena perbuatan biadab para teroris itu ?

Tanpa banyak disorot terkait 100 hari pertama Obama menjabat, kami ingin menyinggung salah satu kunci keberhasilan Obama untuk membuat ritme pemerintahannya menjadi jauh lebih dinamis.

Ia “merangkul” Hillary Rodham Clinton sebagai Menteri Luar Negeri.

Pihak-pihak yang tadinya sangat berseberangan karena tersekat oleh jurang rivalitas politik, sekarang justru menjadi “mitra kerja” yang sangat membanggakan. Hillary menjadi motor yang membuat gerak kabinet Obama lebih bersemangat dalam konotasi yang sangat positif.

Tidak ada kecurigaan dari Obama dan yang terjadi justru sebaliknya bahwa ia memberikan mandat serta kepercayaan yang sedemikian besar untuk Hillary. Dan Hillary terlihat sangat menjiwai tugasnya sebagai Menlu.

Dalam beberapa pekan terakhir ini saja misalnya, Hillary terbang ke Irak disaat sektor keamanan di sana sangat berbahaya. Lalu langsung melanjutkan kunjungan kerja ke Libanon.

Inilah salah satu kejelian dan kecerdasan Obama dalam berpolitik.

Presiden Barack Obama & Menlu Hillary Clinton
Presiden Barack Obama & Menlu Hillary Clinton

Potensi yang sangat membanggakan dari Hillary tidak disia-siakan sebab memang AS membutuhkan. Dan Obama harus berbangga hati karena keputusannya memilih Hillary ternyata sangat tepat. Hillary terlihat betul sangat menyadari bahwa kini ia adalah ujung tombak dari kabinet Obama dalam hubungan luar negeri.

Hillary tahu, kapan ia harus berbicara secara keras, tegas dan lantang untuk menyuarakan pandangan AS dalam masalah tertentu. Tetapi di lain kesempatan, Hillary bisa tampil dengan wajah yang ramah – dimana garis kecantikan di raut wajahnya masih sangat terlihat jelas –. Hillary juga tahu kapan ia harus berbicara secara manis dan normatif.

Program 100 hari Presiden Obama yang cukup berhasil ini, adalah juga atas peran dan kontribusi yang nyata dari Hillary. Mereka saling mengisi dan melengkapi dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan.

Dan tentu atas peran dari seluruh anggota Kabinetnya. Posisi Hillary sebagai Menteri Luar Negeri, membuat isteri dari Presiden Bill Clinton ini lebih besar porsi pemberitaannya dari media massa internasional.

Tetapi, dalam menjalankan roda pemerintahan di AS, Obama tidak sendirian. Juga tak cukup, walau didukung oleh kemampuan diplomasi yang sangat tinggi dari Hillary Clinton. Jadi, Obama bukanlah “One Man Show”. Obama, Hillary dan semua anggota kabinet mereka, adalah satu kesatuan yang akan menentukan berhasil atau tidaknya Obama menjadi Presiden AS dalam era pemerintahan mereka.

Dalam rangka 100 hari pertama pemerintahan Obama ini, memang bukan pujian yang harus disampaikan kepada Obama.

Obama juga pasti tak mengharapkan pujian yang penuh puja dan puji berlebihan dari semua pihak setelah melakukan banyak hal dalam 100 hari pertama pemerintahannya.

Sebab, 100 hari pertama ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang Presiden Obama dan kabinetnya untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Obama memerlukan dukungan yang kuat dari semua pihak, terutama dari semua perangkat dibawahnya dan dari seluruh rakyat AS.

Jika dalam 100 hari pertamanya ini, Obama meraih 73 persen pada peringkat popularitasnya di AS maka itu harus jadi masukan yang sangat berarti. 

Oke, anda dapat 73 persen dalam 100 hari pertama tetapi apakah angka 73 persen itu akan tetap bertahan,  meningkat atau malah menukik tajam jungkir balik ke bawah dalam 100 hari berikutnya dalam masa pemerintahan Obama. Serta bagaimana pada saat nanti kekuasaan Obama memasuki usia setahun, dua tahun dan seterusnya sampai akhirnya selesai menjalani masa baktinya sebagai Presiden AS ke-44.

Jalan masih panjang, terjal dan berliku untuk Presiden Obama menuntaskan masa pemerintahannya.

Dan Obama pasti menyadari itu sehingga dalam 100 hari pertama ini, yang dilakukan oleh Obama adalah untuk memasang dan menguatkan fondasi-fondasi yang fundamental di berbagai sektor yang strategis. 

Obama memang tak perlu repot-repot untuk sengaja berbuat yang penuh rekayasa agar ia bisa menyenangkan semua orang. Ia memang DISENANGI semua orang, sejak pertama melangkah maju dalam pertarungan merebut kursi kepresidenan. Ia sangat disenangi oleh mayoritas rakyat AS. Bahkan oleh pihak-pihak yang berada di partai politik yang menjadi lawan Obama.

Dan setelah Obama menjadi PRESIDEN AS, ia tetap disenangi oleh rakyatnya dan dunia internasional. Bahkan oleh lawan-lawan AS selama beberapa puluh tahun terakhir ini.

So what gitu loh !

Jadi, kritikan usil yang kurang kerjaan dengan menyebutkan bahwa Obama terlalu ingin menyenangkan banyak orang, hanyalah komentar yang kurang cerdas dan kurang jeli. Kasihan deh lo.

Seratus hari pertama telah dilalui Kabinet Obama dengan sangat baik. Rapornya biru, dengan angka-angka penilaian yang “EXCELENT”. Sehingga kalau mau dirangkum dalam sebuah kalimat, ya singkat saja.

MANTAP BARRY !

(MS)

 

Filed under: Uncategorized

KATAKAMI.COM

TULISAN UTAMA DI KATAKAMI

%d blogger menyukai ini: