REDAKSI KATAKAMI

Ikon

Jurnalisme Yang Layak Dipercaya

Terimakasih POLRI / TNI Bekerja Keras Mengamankan Pemilu Legislatif 2009. Applause Untuk PDIP & Partai Golkar. Soal SBY Menang, No Comment Ah … !

 

sangdwiwarnagood friday

KATAKAMI

Jakarta 9 April 2009 (KATAKAMI)  Yang pertama harus diberi ucapan SELAMAT adalah POLRI dan TNI. Sebab mereka telah menjalankan tugas dengan sangat baik. Not zero accident but absolutely execelent !

Bayangkan kalau terjadi guncangan instabilitas negara disana sini.

Tapi ini tidak ada ! Yang tentu menyedihkan hati kita adalah jatuhnya pesawat di Wamena persis pada hari pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 ini. Beberapa hari lalu, pesawat juga jatuh di Bandung. Rata-rata semua penumpangnya tewas. Belum lagi musibah di Situ Gintung.

Paling tidak dalam 30 hari menjelang pelaksanaan Pemilu Legislatif ini, banyak sekali NYAWA MELAYANG.

Luar biasa, gampang sekali rasanya nyawa tercabut lewat berbagai musibah yang merenggut anak-anak bangsa Indonesia.

Coba saja anda hitung mundur selama 30 hari menjelang pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 ini, maka anda akan sependapat dengan kami. Jadi, sambil kita tetap memperhatikan hasil-hasil Pemilu Legislatif 2009 ini, kita jangan melupakan situasi di sekeliling.

Kita tundukkan kepala dan secara tulus mengirimkan doa kepada anak-anak bangsa yang direnggut nyawanya oleh berbagai musibah.

Dan kembali kepada keberhasilan POLRI / TNI dalam mengamankan Pemilu Legislatif 2009 ini, kita patut menyampaikan ucapan terimakasih.

Barangkali kalau POLRI / TNI secara kelembagaan tidak waspada dan tidak “all out” dalam mengamankan jalannya Pemilu Legislatif 2009 (termasuk mengamankan tahapan demi tahapan yang mendahului), bisa jadi situasi di Indonesia ini sudah carut marut dan berdarah-darah. 

Jika kami boleh jujur, seandainya saja kami yang keluar jadi pemenang Pemilu Legislatif 2009 ini maka kami akan malu. Kami tidak akan mau tepuk-tepuk dada atau senyum sana-sini bagaikan pemenang Kontes Ratu Sejagad atau Festival Tarik Suara, soalnya kami tahu suara kami cempreng dan lari-lari nadanya. Sehingga siapapun yang mendengar kami menyanyi dalam Festival itu, pasti gendang telinganya bisa kena radang akibat sumbangnya suara kami. Terus, jika tiba-tiba kami bisa mengalahkan Celine Dion misalnya atau 3 DIVA (Ruth Sahanaya, Titi DJ dan Krisdayanti) maka kemenangan kami itu pasti mengundang kecurigaan semua orang.

Mengapa ?

Ya, aneh saja kalau misalnya kami yang nyata-nyata anak bawang bersuara sumbang dalam pentas nyanyi tingkat spektakuler tetapi bisa mencuat jadi superstar yang mengalahkan semua DIVA-DIVA raksasa dengan hasil yang “SO AMAZING”.

golkarPDIP

Jadi, barangkali yang terbaik untuk dilakukan saat ini adalah buka mata dan telinga.

Coba lihat dan dengarkan, betapa banyaknya  kekurangan dan patut dapat diduga terjadi banyak kecurangan disana sini. Apa yang bisa kami banggakan kalau saja kami ini parpol peserta Pemilu Legislatif 2009 dan memenangkannya ?

Megawati Soekarnoputri tidak bisa memenangkan Pemilu 2004, bukan karena ia tidak mampu tetapi karena ia tidak mau memanfaatkan seluruh INSTANSI PEMERINTAH yang ada dibawah otoritas KEPRESIDENAN untuk main kayu memenangkan Megawati.

Megawati Soekarnoputri tidak menempatkan anggota TIM SUKSES dirinya untuk duduk di posisi-posisi kunci dalam KABINET GOTONG ROYONG yang memungkinkan pendongkrakan suara dengan cara sangat canggih, sistematis dan terstruktur.

Begitu juga Wapres M. Jusuf Kalla (JK).

JK, adalah politisi yang sangat santun, tahu diri dan tahu memainkan peranannya. Walaupun ia orang nomor 2 di republik ini, patut dapat diduga anggota Kabinet ini memang “lebih loyal” kepada Presiden SBY.

Sikap loyal itu baik tetapi dalam duet kepemimpinan nasional, loyalitas itu janganlah dibuat sempit dan terkesan tidak adil. Ingin carmuk misalnya kepada SBY, maka patut dapat diduga para Menteri bisa jadi langsung mengesampingkan dan mengabaikan Wapres JK.

Sehingga, saat JK turun ke bawah untuk mengikuti kampanye terbuka Partai Golkar misalnya maka yang perlu disampaikan disini adalah JK sangat kekurangan waktu.

Bukan berarti JK tidak serius dalam mengurus dan memimpin Partai Golkar. JK pasti sangat serius dalam mengurus dan memimpin Partai Golkar. Tetapi ada sesuatu yang ingin ditunjukkan dan dibuktikan oleh JK bahwa ia tidak akan mengkhianati dan membiarkan atasannya bekerja sendiri menuntaskan masa jabatan di Kabinet.

Masih untung, JK bisa terlepas dari beban panjang untuk berada dibawah bayang-bayang Pemerintah. Artinya, ada satu titik dimana JK bisa dengan percaya diri dan tegas menyatakan bahwa ia bersedia dicalonkan sebagai CAPRES 2009.

Dengan gambaran hasil Pemilu Legislatif yang seperti ini, Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Hanura dan Partai Gerindra, harus fokus dan membuka diri untuk menjalin koalisi permanen.

Kalau misalnya kami boleh bisik-bisik kepada parpol-parpol yang kami sebutkan namanya untuk menjalin koalisi ini …. ssstttt, patut dapat diduga mencuatnya pihak tertentu meraih kejayaan karena sistem dan kekuasaan yang ada di tangan dijadikan sebagai kunci kejayaan tersebut. Tetapi semua itu harus dibuka, disingkapkan dan dibongkar terlebih dahulu jika patut dapat diduga ada “patpatgulipat” aksi memenangkan dengan cara yang sangat “SEMPURNA”.

Seperti lagu indah yang dinyanyikan Grup Band ANDRA & THE BACK BONE …. “Sempurna” !

Take it easy !

Jika patut dapat diduga memang terjadi banyak kecurangan yang memang digerakkan oleh kekuasaan dan sistem yang ada didalam PEMERINTAHAN, maka percayalah akan terkuak dan terbuka satu-persatu. Tunggu saja. Masih ada waktu dan kesempatan untuk mencermati perkembanga.

Kami sudah menuliskan sebelum ini, bahwa patut dapat diduga ada sejumlah pihak yang akan ALL OUT membela dan memenangkan SBY terkait kasus hukum yang menimpa diri mereka sebagai aparat negara. Siapa yang bisa melawan jika patut dapat diduga yang “cari selamat” itu adalah kelompok atau kubu yang sangat kuat dan menguasai bidang IT secara …. “SEMPURNA”.

Jusuf Kalla Ketua Umum Partai Golkar Nomor Urut 23Megawati Ketua Umum PDI Perjuangan Nomor Urut 28

Jadi, kami tetap konsisten untuk memberikan “applause” kepada PDI Perjuangan dan Partai Golkar.

Memang sudah jodohnya, si merah dan si kuning bersanding dalam koalisi.

Dan JK, harus cerdik sekarang. Posisinya masih tetap Wakil Presiden.

Sehingga, sambil peluang koalisi itu dirintis dan dibangun maka yang perlu dilakukan oleh JK adalah memonitor dari “dalam” Istana Wapres terhadap berbagai kabar. Apakah patut dapat diduga, ada INSTANSI PEMERINTAH yang secara keterlaluan bermain di belakang layar memenangkan SBY ?

Just do it, Daeng !

Cermati semua informasi yang ada dan jangan lewatkan kesempatan apapun yang bisa dijadikan sebagai bukti kuat jika memang patut dapat diduga ada kecurangan yang sudah sangat keterlaluan.

 

 

GERINDRAWiranto Ketua Umum Partai Hanura Nomor Urut 1

Kami memberikan “applause” juga kepada Partai Hanura dan Gerindra atas debut pertama mereka lewat Pemilu Legislatif 2009.

Selamat datang dalam dunia perpolitikan nasional secara resmi.

Berapapun perolehan suara yang diraih oleh Partai Hanura dan Partai Gerindra, kedua parpol ini harus sangat menghargai dan patut dihargai.

Semua harus tenang dan tetap kalem. Seperti kata pepatah, air yang tenang itu justru menghanyutkan. Tetapi ada juga kalimat bijak lain yang mengatakan, dibalik ketenangan itulah maka kita akan meraih kemenangan yang sejati.

Semua harus siap dengan kejutan apapun pasca Pemilu Legislatif 2009 ini. Barangkali, ada yang terketuk hatinya untuk buka suara atau menceritakan sesuatu terkait “fakta-fakta yang rahasia” dan memang sangat berharga bagi bangsa, negara dan seluruh rakyat Indonesia untuk diketahui secepatnya.

Menutup tulisan ini, sekali lagi kami ingin mengajak anda semua untuk memberikan penghargaan kepada POLRI / TNI atas kerja keras mereka mengamankan.

Riak-riak kecil yang terjadi sepanjang Pemilu Legislatif 2009 ini, rata-rata adalah masalah yang justru berada diluar kewenangan dan tugas POLRI / TNI.

Terimakasih POLRI. Terimakasih TNI Kerja keras anda semua sangat membanggakan INDONESIA.

Masih ada 1 agenda politik nasional lagi yang akan digelar pada bulan Juli mendatang. Belajar dari pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 ini, maka POLRI / TNI diharapkan dapat lebih tajam mengamankan proses Pilpres 2009.

Kalau saja, Kantor Kementerian Polhukkam dan Badan Intelijen Negara (BIN) tidak dipimpin oleh personel yang  bukan merupakan TIM SUKSES SBY tahun 2004 maka kami akan secara tulus iklas memberikan ucapan selamat kepada Presiden SBY.

Tetapi, patut dapat diduga ada ketidak-netralan dari Kantor Kementerian Polhukkam dan BIN.

Kami pernah beberapa kali menyinggung masalah ini bahwa diberikannya dua lembaga itu kepada personel yang nyata-nyata adalah anggota TIM SUKSES SBY pada tahun 2004, maka patut dapat diduga saat inipun mereka juga akan berpartisipasi dalam mensukseskan SBY dengan semua agenda politiknya.

Betapa strategis dan kuatnya lembaga seperti Kantor Kementerian Polhukkam dan BIN.

Ini menjadi pelajaran dari pihak manapun di republik ini bahwa FAIRNESS atau asas keadilan itu akan sangat sulit diberikan kepada semua pihak, jika patut dapat diduga loyalitas pimpinan dari lembaga tertentu masih tetap diberikan kepada individu tertentu yang selama ini mereka bela dan menangkan.

Kami mengenal baik Widodo AS dan Sjamsir Siregar.

Tapi bukan karena kami mengenal mereka sebagai abang dan sahabat maka tabu untuk memberikan saran atau kritik. Sejarah bangsa ini tetap mencatat jejak masa lalu mereka sebagai TIM SUKSES SBY tahun 2004.

Tidak bisa ditutupi atau dipungkiri, itu adalah fakta.

Bicara soal lembaga intelijen semacam BIN, satu-satunya yang menjadi USER atau pengguna lembaga ini adalah PRESIDEN RI. Kebetulan pada saat ini, sang USER memiliki agenda politik nasional.

Siapa yang bisa menandingi BIN dalam seluruh perangkat dan peralatan mereka ? Tidak ada ! Kalaupun ada, barangkali itu adalah POLRI (terutama TIM ANTI TEROR POLRI).

Jauh hari sebelum pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 ini dilaksanakan, kami sudah menyampaikan berbagai tulisan yang muaranya adalah POSISI yang sangat strategis di kabinet seperti Kantor Kementerian POLHUKKAM dan BADAN INTELIJEN NEGARA (BIN) janganlah ditempati oleh anggota tim sukses atau siapapun yang nyata-nyata sudah terjun dalam dunia politik praktis.

Akan sulit dan patut dapat diduga mustahil untuk menjaga netralitas !

Jadi, siapapun yang merasa jadi pemenang Pemilu Legislatif 2009 berdasarkan hasil penghitungan cepat atau QUICK COUNT maka kami tidak ingin ikut-ikutan larut dalam euforia.

No way !

Kami ingin menundukkan kepala saja. Rasanya lebih baik untuk merenung dan larut dalam prihatin karena begitu banyak NYAWA yang melayang belakangan ini. Dalam 5 tahun terakhir ini, banyak sekali nyawa rakyat Indonesia yang sudah melayang.

Jadi lebih lebih baik, kalau kami mengirimkan doa untuk mereka yang menjadi KORBAN. Entah itu korban musibah SITU GINTUNG CIRENDEU, musibah jatuhnya Pesawat Fokker di Bandung dan di Wamena Papua.

Rest in peace, beristirahatlah dalam damai, anak-anak bangsa Indonesia yang terpaksa mengakhiri perjalanan mereka di dunia yang fana ini.

Kami juga ingin ambil nafas lebih banyak lagi setelah melihat perkembangan Pemilu Legislatif 2009. patut dapat diduga, lebih asyiklah pihak tertentu merusak MEDIA MASSA (terutama KATAKAMI), lebih jauh harapan untuk bisa menuntaskan berbagai kasus pelanggaran hukum yaitu kasus pembunuhan aktivis HAM Munir dan kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS.

Barangkali di tempat persembunyiannya saat ini, bandar narkoba MONAS mengejek KATAKAMI dengan nada sinis, “Rasain, berani-berani minta agar hukum ditegakkan di Indonesia, lu pikir lu siapa kATAKAMI ? Lu mau lawan gue, raja narkoba se-Asia? Ngaca dong ! Monas dilawan !”.

Waduh, kalau sampai seperti itu si bandar narkoba MONAS berani-beraninya bilang begitu kepada kami dan rakyat INDONESIA, tunggu saja ….

Monas, Monas, memang nasibmu setinggi Tugu Monas alias jauh diatas alias diawang-awang. Nasibmu masih baik selama ini bisa lolos sampai 3 kali berturut-turut sepanjang masa PEMERINTAHAN SBY.

Nasib nasib. Buruknya nasib INDONESIA, ada bandar kotor bisa seberuntung itu di era pemerintahan SBY. Dan kepada SUCIWATI, isteri Almarhum Munir, sepertinya keinginan untuk segera mengetahui siapa pembunuh Munir yang sebenarnya, lebih baik tetap bersabar. Gayanya saja PEMERINTAHAN SBY ini mau dan mampu menyelesaikan atau menuntaskan kasus pembunuhan MUNIR. 

Padahal dalam kenyataannya dalam kasus Munir, “Jauh panggang dari api !”. 

(MS)

Iklan KATAKAMI
 
 
 

 

Filed under: Uncategorized, , , , , , , ,

KATAKAMI.COM

TULISAN UTAMA DI KATAKAMI

%d blogger menyukai ini: