REDAKSI KATAKAMI

Ikon

Jurnalisme Yang Layak Dipercaya

Trio Wartawan Belanda Yang “Nyasar” Ke Papua Itu Jangan Banyak Omong Menyudutkan Indonesia !

Nicolaas Jouwe

Nicolaas Jouwe

Jakarta 25/3/2009  (KATAKAMI)  Alangkah terkejutnya saat mengetahui berita yang disampaikan Radio Nederland Belanda terkait penahanan 4 wartawan Belanda di Papua.  Tetapi berdasarkan keterangan Pejabat Indonesia dan sesuai dengan pemberitaan di media massa nasional, wartawan yang ditangkap hanya 3 orang.
Rasa nasionalisme dan kecintaan pada tanah air, seakan terusik atas perilaku para wartawan Belanda ini.

Seakan-akan, negara yang kita cintai ini sangat buruk perilakunya dan pantas dicemooh di kalangan internasional.

Tapi baiklah, bagaimana kalau kita simak saja dulu pemberitaan yang disajikan oleh Radio Nederland Belanda yang disiarkan Rabu (25/3/2009).

Nicolaas Jouwe di masa muda

Nicolaas Jouwe di masa muda

Inilah berita yang disiarkan itu :

Jayapura – Empat wartawan Belanda yang sebelum ini ditahan di Papua kembali dilepaskan. Tiga kru televisi IKON masih harus kembali melapor ke polisi. Seorang koresponden harian NRC sudah resmi bebas. Warga Belanda itu ditangkap karena meliput unjuk rasa menuntut kemerdekan Papua. Menurut pejabat berwenang, mereka melanggar peraturan imigrasi dan membuat film tanpa ijin. Para wartawan tersebut mengikuti perjalanan Nicolaas Jouwe, berusia 85 tahun, ke Indonesia. Ia perintis gerakan kemerdekaan Papua.
Salah seorang wartawan Belanda yang ditangkap, mengirimkan pesan singkat kepada RNW. Menurutnya telpon telah beberapa hari disadap dan beberapa nomor tujuan diblokir. Mereka diperiksa selama 13 jam dan diperlakukan kasar.

 

Ketiga wartawan IKON tengah menanti pengembalian paspor yang disita. Menteri Luar Negeri Belanda Maxime Verhagen menyatakan prihatin atas peristiwa itu.

 

Peta Papua

Peta Papua

 

 

Poin pertama yang segera harus diatasi dan ditangani secara cepat oleh PEMERINTAH INDONESIA adalah secepatnya mengontak Pejabat Imigrasi di Papua untuk mengklarifikasi kebenaran kabar tentang adanya “perlakuan yang buruk” terhadap para wartawan Belanda itu.

Mengapa harus diklarifikasi ?

Ya, agar PEMERINTAH INDONESIA bisa memastikan dan memberitahukan kepada PEMERINTAH BELANDA dan dunia internasional bahwa kabar tentang adanya “perlakuan yang buruk dan kasar” fisik itu tidak benar. Terus terang, kami sungguh berharap kabar itu tidak benar.

Poin kedua yang juga harus disampaikan kepada PEJABAT IMIGRASI di Papua, adalah memerintahkan mereka agar dengan cara yang paling “halus” mengambil semua alat komunikasi yang dipegang oleh para wartawan Belanda itu. Terutama HANDPHONE.

Para wartawan Belanda ini sangat keterlaluan dan merendahkan martabat Indonesia.

Kalau kami bisa bilang, provokasi dari para wartawan Belanda ini adalah provokasi yang sangat brengsek. Mengapa brengsek ? Ya, sebab diam-diam mereka mendeskreditkan INDONESIA, dengan menyebar-luarkan informasi yang belum tentu benar.

 

Baik Pihak IMIGRASI dan POLDA PAPUA, harus sangat cermat menangani kasus ini.

Tanpa ada provokasi dari media Belanda saja, patut dapat diduga bahwa selama ini “oknum tertentu”dari warga lokal Papua sangat piawai memprovokasi dunia internasional bahwa perlakukan APARAT KEAMANAN (TNI & POLRI) di Papua sangat buruk, brutal dan penuh pelanggaran HAM.

Mereka sangat lihai memanfaatkan kecanggihan teknologi dunia maya.  Tak cuma HANDPHONE, tetapi provokasi internasional itu bisa saja dilakukan lewat surat-surat elektronik (email) dan penyebar-luasan informasi lewat SITUS.

INDONESIA harus prihatin pada peristiwa ini yaitu ada tokoh separatis Papua yang di usia sangat LANSIA saja bisa termotivasi untuk memojokkan dan menjelek-jelekkan Indonesia.

Berita bahwa INDONESIA menangkap sejumlah wartawan Belanda, rasanya sangat menampar muka kita sebagai bangsa yang beradab. Dunia internasional, khususnya PEMERINTAH BELANDA, tentu tidak mau tahu dan pasti akan larut dalam informasi yang sepihak.

Saat ini, dalam pemberitaan berskala INTERNASIONAL, negara yang secara bersamaan diberitakan menangkap wartawan asing adalah Korea Utara dan Indonesia.

Sejak tanggal 17 Maret 2009, Korea Utara masih menahan 2 wartawati AS yaitu Euna Lee dan Laura Ling saat keduanya melintasi perbatasan antara Korea Utara dan Cina . Tetapi “Pyongyang” cukup pintar berdiplomasi sebab dengan cepat mereka mengkomunikasikan kepada “Washington” bahwa kedua jurnalis itu diperlakukan dengan sangat baik.

Sementara di Indonesia, justru wartawan yang bersangkutan bisa seenak “jidatnya” mengirim kabar dan pesan ke “negaranya” bahwa mereka diperlakukan sangat buruk oleh APARAT BERWENANG di Indonesia.

Dan lihatlah hasilnya, tanpa perlu mengkonfirmasikan kebenaran kabar provokasi yang seenaknya “jidat” wartawan-wartawan Belanda ini, media Belanda sudah langsung memberitakannya secara luas.

Tinggallah kita yang sekarang harus menanggung malu.

Presiden SBY didampingi Menlu Hassan Wirayuda

Presiden SBY didampingi Menlu Hassan Wirayuda

 

 

Kalau mau jujur terkait insiden ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus memanggil Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda. Pemanggilan itu adalah untuk memerintahkan Menlu Wirayuda menegur secara keras Kedutaan Besar RI di Belanda.

Mengapa harus ditegur ?

Ya, memang harus ditegur. Kesalahan utama dalam peristiwa ini ada pada KBRI di Belanda. Mengapa memberikan visa kepada para wartawan tadi jika maksud dan tujuannya adalah untuk melakukan “shooting” terhadap tokoh yang sudah sangat senja dari kelompok separatis Papua.

KBRI di Belanda jangan menyusahkan PEMERINTAH INDONESIA, khususnya APARAT BERWENANG di Papua. Jangan sok demokratis dan menunjukkan betapa reformis dan terbukanya sekarang Indonesia.

Untuk apa diberikan visa jika maksud dan tujuannya adalah provokasi semacam ini. Harusnya dicermati bahwa isu mengenai “PAPUA” akan selalu menyudutkan nama Indonesia. Apakah tidak ada bagian atau bidang intelijen di setiap KBRI ? Apakah tidak ada kontak dan koordinasi yang sangat kuat antara KBRI Belanda dengan DEPLU ?

Ketika permohonan visa itu disampaikan kepada KBRI di Belanda, bukankah sebaiknya KBRI di Belanda mempelajari terlebih dahulu permohonan visa itu dan segera mengkomunikasikannya ke “Jakarta” ?

Lalu, setelah ada kabar adri KBRI di Belanda, bukankah juga sebaiknya DEPLU berkomunikasi secara intensif dengan Jajaran Polhukkam. Sehingga, ada perspektif dari Jajaran Polhukkam mengenai apa resiko atau kemungkinan paling buruk jika Pemerintah Indonesia (cq KBRI di Belanda) memberikan visa itu.

Tidak perlu ada toleransi untuk pihak manapun yang berusaha melakukan “BLACK CAMPAIGN” untuk Indonesia.

Harusnya KBRI di Belanda mengatakan kepada tokoh separatis Papua yang sudah berusia sangat senja itu bahwa rencana kepulangan dirinya ke Indonesia, tidak boleh didramatisir atau dijadikan sebagai bahan provokasi. Sudah untung masih boleh pulang dan bisa menginjakkan kaki ke Indonesia.

Ini menjadi pelajaran bagi PEMERINTAH INDONESIA agar semua KBRI selektif dan bisa bekerja dengan sangat cerdas mengantisipasi hal-hal semacam ini.

Tolak saja permohonan visa dari pihak manapun juga, jika patut dapat diduga kedatangannya ke Indonesia bukan untuk maksud yang baik. KBRI jangan bikin masalah baru di tanah air. Ini tamparan bagi kita sebagai sebuah bangsa.

Dan Deplu jangan bersikap pasif. Harus “bunyi” dan katakan pada PEMERINTAH BELANDA bahwa wartawan mereka diperlakukan baik. Jangan diam saja. Mengapa diam saja ?

Era keterbukaan seperti sekarang, bukan berarti memberikan peluang atau kesempatan selebar-lebarnya bagi pihak separatis untuk menjungkir-balikkan harkat, martabat, derajat dan nama baik INDONESIA.

Sehingga, saat mengetahui wartawan-wartawan Belanda ini bisa seenaknya mengirim kabar yang sangat buruk mengenai INDONESIA (khususnya Papua), satu kalimat saja yang pantas ditujukan kepada wartawan-wartawan Belanda itu yaitu :

“WHAT THE HELL ARE YOU TALKING ABOUT ? SHUT UP, MAN ! THIS INI OUR COUNTRY”

Ya, rasa nasionalisme dan kecintaan yang besar pada Indonesia, jelas terusik dengan provokasi semacam itu.

 

Bendera Merah Putih

Bendera Merah Putih

 

 

Indonesia ini negara yang beradab. Jangan lagi dibiarkan ada insiden yang sama bisa terulang. Masalah Papua ini, bisa menjadi bom waktu yang kapanpun juga bisa meledak dan menghancurkan seluruh tatanan.

Ketika INDONESIA sudah berusaha untuk bersikap sangat baik dan murah hati, kok malah dipermalukan seperti ini ? Pemerontak-pemberontak, mau tua atau muda, janganlah membuat kekacauan untuk mempermalukan INDONESIA sebagai sebuah bangsa.

Semangat rekonsiliasi menjadi tersandera oleh provokasi semacam ini. Dan kita sebagai anak bangsa seakan tak rela, jika “MERAH PUTIH” ternodai oleh provokasi yang gelegarnya mendunia.

Bukankah sebenarnya masa penjajahan itu sudah cukup lama berlalu tetapi mengapa kok gelagatnya harkat, martabat, derajat dan nama baik Indonesia seakan mau “dijajah” dengan cara lain.

Atau, harus ramai-ramai rakyat Indonesia mengeluarkan amarahnya dengan mengatakan, “Verdomme !” (Terkutuk Kau !).  Jangan biarkan ada yang merendahkan martabat kita sebagai sebuah bangsa. 

(MS) 

 

 

Filed under: Uncategorized,

KATAKAMI.COM

TULISAN UTAMA DI KATAKAMI

%d blogger menyukai ini: