Jakarta 15/5/2009 (KATAKAMI) Kabar tentang kurang sehatnya Ketua Dewan Pertimbangan Pusat DPP PDI Perjuangan Taufiq Kiemas, mau tak mau pasti membuat Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi kepikiran juga. Di tengah sedang alotnya pembahasan seputar kandidat calon wakil presiden (cawapres), TK – begitu Taufiq Kiemas biasa dipanggil – justru harus istirahat di rumah sakit. TK, sang politisi ulung ini memang jago dalam melobi antar lintas partai.
Ia dan Megawati Soekarnoputeri menjadi pasangan yang saling melengkapi. Tapi tak apa, walau TK harus dirawat di rumah sakit … toh Megawati tetap memiliki “ring satu” atau orang-orang terdekat yang sangat amat dapat dipercaya dan diandalkan.
Sebutlah misalnya, Theo Syafei, Panda Nababan, Sabam Sirait, Mangara Siahaan, Tjahyo Kumolo, sang puteri tunggal yang cantik Puan Maharani, dan tentu saja Sekjen DPP PDI Perjuangan Pramono Anung.
Tawar-menawar politik antara PDI Perjuangan dan Partai Gerindra tampaknya sangat sulit sekali mencapai kata kesepakatan.
Tapi tidak apa, Megawati pasti akan mampu menghadapi dan mengatasi situasi seperti ini. Sebab, pengalaman hidup dari Putra-Putri Soekarno yang sarat dengan kepedihan, kepahitan dan kegetiran yang teramat dalam selama puluhan tahun, pasti membuat mental dan sisi kejiwaan dari Megawati menjadi kokoh setegar batu karang.
Tidak usah dibuat dalam rumusan berliku untuk urusan koalisi politik. Sederhana saja, kami punya sekian persen suara dan anda punya berapa persen suara ?
Jika dari segi prosentase perolehan suara saja sudah bisa dilihat seberapa besar perbedaannya, maka logikanya pihak yang memiliki suara terendah harus legowo untuk menduduki posisi kandidat CAWAPRES.
Bisa jadi saat ini, Megawati sudah sangat jengkel.
Mengapa susah sekali untuk mencapai kata kesepakatan ? Padahal perolehan suara dari PDI Perjuangan tidak kecil-kecil amat. Angka yang diperoleh PDI Perjuangan dari hasil Pemilu Legislatif 2009 adalah 14 persen lebih.
Sangat wajar dan sungguh bisa dimengerti mengapa Megawati memegang dan menjalankan prinsip kehati-hatian dalam menentukan kandidat cawapres yang akan “dipinangnya”.
Betul, ada fenomena dimana Letjen TNI Purnawirawan Prabowo Subianto sedang naik daun dan sangat mengakar di kalangan petani, buruh dan nelayan.
Artinya, untuk bisa menyumbangkan suara kepada Megawati sebagai Capres maka sumbangan suara itu akan benar-benar ada secara nyata masuk ke kantong Megawati saat Pilpres nanti.
Tetapi yang jadi permasalahan disini adalah, janganlah ada persyaratan-persyaratan dalam kondisi berlapis dan berjenjang. Dalam arti kata, persyaratan itu sangat banyak dan belum tentu bisa diakomodir semua.
Ingat, yang akan dihadapi dalam Pilpres mendatang adalah pihak penguasa.
Seandainya saja Megawati memang cerdik dan masih tetap tangguh sebagai pribadi yang tahan banting dalam situasi yang sesulit apapun maka dalam hitungan waktu yang sangat sempit ini, lebarkan lobi dan dialog kepada pihak lain yang potensial untuk menjadi kandidat Cawapres.
Ada 2 nama yang layak dipertimbangkan yaitu Jenderal Polisi SUTANTO dan Suryadharma Ali.
Ini figur-figur yang relatif sangat aman, cakap, bermutu dan pasti bisa menyumbangkan suara untuk Megawati dalam meraih kemenangannya.
Dalam struktur kepartaian PKS (Partai Keadilan Sejahtera), ada satu nama yang bisa dijadikan mediator untuk menjajaki koalisi instan yang berkualitas yaitu Mantan Wakapolri Komjen. Polisi Purnawirawan Adang Darajatun.
Megawati mengenal baik figur Adang Darajatun. Buka komunikasi di saat-saat terakhir dengan PKS lewat figur Adang Darajatun. Benang merah yang bisa ditarik jika figur Adang Darajatun yang dijadikan jembatan penghubung adalah dibidiknya nama Mantan Kapolri Jenderal Polisi Purnawirawan Sutanto untuk menjadi kandidat Cawapres Megawati.
Win win solution bisa ditawarkan kepada PKS yaitu menyangkut jatah kursi kabinet !
Ya memang, konsekuensi dari terjalinnya sebuah koalisi adalah pemberian jatah kursi kabinet toh ? Walau bukan tokoh penting dari PKS yang duduk sebagai cawapres tetapi dari untaian benang merah yang terurai dari semua penjajakan tadi, maka PDI Perjuangan pasti akan tahu harusd bagaimana menggodok koalisi lintas batas seperti itu.
Figur lain yang bisa dilirik dengan cepat adalah Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suryadharma Ali.
Apakah Megawati bisa menyesuaikan diri dan memang merasa menemukan daya tarik berupa “CHEMISTRY” antara naluri politiknya dengan SDA (Suryadharma Ali, red) ?
Sayang, perolehan suara PDIP tidak menembus angka dua digit yaitu 20 %, yang memungkinkan Megawati memilih dengan bebas.
Masih ada waktu beberapa jam ke depan. Pikirkan baik-baik agar jangan “WESTING TIME” alias menyita banyak waktu tanpa ada hasil yang berarti.
Kalau memang tidak jodoh, percuma dipaksakan.
Kalau memang tidak jodoh, maka sebanyak atau dibuat sangat sedikit sekalipun persyaratan koalisi itu, tetap sulit bersatu.
Megawati tak perlu tertekan atau terpojok bahwa seolah-olah hanya Prabowo Subianto satu-satunya kandidat CAWAPRES. Walau tak berjodoh, persahabatan dan persaudaraan sejati bisa tetap dijalin.
Begitu juga dengan figur Sri Sultan Hamengku Buwono ke X. Sebagus apapun performa politik dari Raja di Kesultanan DIY ini tetapi faktanya akan terbentur pada angka suara yang bisa disumbangkan.
Megawati tak punya pilihan lain selain memilih figur yang bisa menghasilkan sumbangan suara sebagai persyaratan mengikuti Pilpres 2009.
Ibu, tetapkan hati dan pilihlah salah satu yang tidak akan membuat Ibu menyesal di kemudian hari ….
Ibu, tetapkan hati dan kerahkan semua kemampuan lobi politik yang terbaik di menit-menit terakhir ini …
Pertimbangkan segala sesuatu yang patut dapat diduga akan digunakan oleh pihak lawan untuk menjatuhkan atau melakukan pembunuhan karakter, apalagi jika menyangkut seribu satu macam kasus dalam kehidupan kita ini.
Bukan berarti Megawati atau Prabowo yang terlilit kasus hukum.
Tetapi harus diwaspadai bahwa patut dapat diduga akan ada serangan khusus yang hendak dipaksakan untuk menghantam benteng pertahanan Megawati saat melangkah maju ke gelanggang pertarungan Pilpres 2009.
Selamat memilih, Ibu …
Rakyat pemilih yang sudah memberikan suaranya untuk memilih PDI Perjuangan pada Pemilu Pilpres 2009 lalu, tentu ingin agar Ibu memang bisa dengan aman dan lancar mengikuti Pilpres 2009.
Pilihlah yang “cantik” karena pemimpin perempuan akan lebih peka dalam mengatasi permasalahan hidup di di tengah-tengah bangsa kita. Semoga kabar Ibu Megawati baik-baik karena sudah lama tak bersua. Betapa sulitnya waktu untuk bisa bertemu tetapi kami maklum karena padatnya agenda penting yang harus dilakukan oleh seorang Ketua Umum Partai Politik sebesar PDIP.
Sulitnya bertemu Megawati, sama sulitnya seperti kesulitan kami untuk bisa bertemu isteri dari Almarhum Munir, SUCIWATI. Sudah lebih dari 2 minggu mencari waktu temu tetapi belum ada hari baik bulan baik.
Terakhir berbicara dengan SUCIWATI, katanya “Kasus pembunuhan suamiku harus dituntaskan, jangan sampai tidak !”.
Baiklah Ibu, kami merindukan senyuman Ibu di tengah kepusingan politik seperti ini.
Ibu senyum disana, kami senyum disini, dengan satu harapan, “Jangan Salah Pilih !”
(MS)
Filed under: Uncategorized , Megawati Soekarnoputri, PDI Perjuangan






















































